PERKUMPULAN PELATIHAN OLAH TENAGA DALAM

SATYA BUANA

" Mewujudkan Kondisi Sehat Jasmani Dan Rohani Secara Mandiri "

Breadcrumbs

Home ARTIKEL Doa yang terpantul
Written by Administrator   
Monday, 11 August 2008 09:17

Catatan : Kharisma Abadi ( Humas Satya Buana Surabaya)
Inilah baiknya belajar Satya Buana secara utuh. Tidak setengah-setengah. Banyak sekali pengalaman yang bisa kita peroleh disini. Tak hanya sekedar kesehatan yang optimal, namun pengalaman spiritual pun bisa anda dapatkan.
Namun… sebelum anda memulai asyiknya pengalaman spiritual, ada sejumlah koridor syarat yang mesti dipenuhi. Tujuan utamanya supaya anda tidak salah arah, dan yang paling penting, tidak keliru dalam menafsirkan pengalaman spiritual anda itu. Sebab, kekeliruan dalam menafsirkan pengalaman spiritual bisa saja berakibat fatal, yakni menggelincirkan anda ke syirik. Syukurlah hingga saat ini tidak ada kejadian semacam itu.

Tentu saja, hukum syirik alias menyekutukan Tuhan disini khusus berlaku bagi anda anggota Satya Buana yang muslim. Lantas, bagaimana dengan saudara – saudara kita anggota Satya Buana yang non muslim ? Mereka juga bisa mengalami pengalaman spiritual. Semua mempunyai hak yang sama.

Saya masih ingat, ketika dulu sering dilatih oleh pembina untuk mengenal dimensi alam di sekitar manusia. Aktivitas yang kemudian di tahun 1997, dikenalkan sebagai Teknik Lintas Dimensi oleh Ir Firmansjah Kartawidjaja, salah satu anggota dewan pembina yang bermukim di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Saat itu yang dibahas adalah soal ini : Mengapa ada doa yang tidak dikabulkan oleh Tuhan ? Terkait soal ini, saya yakin anda yang mempunyai pengetahuan agama jauh lebih baik daripada saya bisa menjawabnya dengan berbagai dasar, baik itu bersumber pada hadis nabi atau pendapat para ulama. Namun, saya tidak akan membahasnya sehubungan dengan itu, karena banyak yang jauh lebih berkompeten menjawabnya bila dikaitkan dengan ajaran agama Islam. Saya hanya membatasinya kaitannya antara perihal syirik dengan doa yang dipanjatkan seseorang, karena memang itulah yang saat itu saya pelajari.

Ketika saya belajar untuk mengetahui masalah itu, Pembina Edi Suwono sempat mengatakan, bahwa doa sampai ke Allah atau tidak, sangat berkaitan erat dengan ada tidaknya kesyirikan dalam hati seseorang. Syirik adalah dosa yang tak terampuni, karena seseorang mempersekutukan Allah dengan sesuatu. Mempersekutukan berarti menyamakan, menganggap bahwa ada sesuatu yang juga berkuasa ‘berbuat sesuatu’. Dan perilaku ini tak bisa dibenarkan dengan dalil apapun. Begitu tegasnya prinsip aqidah Islam yang hendak dijaga melalui POTD Satya Buana.

Untuk lebih jelasnya, saya menggunakan teknik untuk melihat sebuah aktivitas doa bersama, yang dipanjatkan oleh sekelompok orang. Bukan kelompok biasa sebenarnya, karena doa bersama itu langsung dipimpin oleh para tokoh pimpinannya juga, yang sangat dihormati dan disegani. Sebelum membaca doa utama pun, mereka juga harus melalui serangkaian bacaan yang juga disusun sedemikian rupa. Bahkan, prosesi doa bersama itu berjalan cukup lama, karena memang banyak materi bacaan yang –menurut mereka- mutlak dibaca.

Tetapi, apa yang terjadi secara spiritual sungguh diluar dugaan saya. Saya sangat tidak percaya dengan apa yang saya lihat sendiri. Aura pancaran dari doa yang mereka panjatkan itu ternyata tidak bisa menembus tujuh lapis langit. Aura doa itu berhenti di langit dunia saja. Dan…tidak hanya sekedar berhenti. Aura doa yang berasal dari bacaan yang mereka ucapkan, juga terpantul kembali ke bumi. Seperti ada lapisan kaca yang memantulkan aura doa itu, sehingga tak bisa menembus tujuh lapis langit. Lantas,.. sia – siakah doa yang mereka baca itu ? Waallahu’alambisshawab.,.
Saya pun protes kepada pembina, mengapa doa itu terpantul ? Pembina tidak menjawab, tetapi justru meminta saya untuk mencari tahu sendiri. Saya pun melakukan scan menyeluruh terhadap aktivitas doa tersebut, dan hasilnya baru saya tahu, karena ada unsur lain yang juga terlibat. Unsur lain ya berhubungan dengan perihal syirik tadi.
Meskipun saya mengetahui hikmah dibalik aktivitas itu, saya atau anda tidak berhak memvonis bahwa mereka yang terlibat pada acara ritual itu musyrik. Mungkin, mereka tidak tahu dan tidak menyadari apa yang terjadi sebenarnya karena memang tidak ada yang memberitahu mereka. Sekalipun toh diberitahu, sangat besar kemungkinan mereka tak percaya, dan bisa menuduh sebaliknya. Jadi, mari kita kembalikan kepada Allah saja…

Selain syirik, doa yang terpantul juga bisa terjadi dari halal atau tidaknya makanan dan minuman yang kita konsumsi. Tak sekedar makanan atau minumannya, tetapi juga uang yang kita gunakan untuk beli makan dan minum tadi, berasal dari jalan yang halal atau tidak. Ini yang masih belum banyak dari kita yang menyadarinya. Bisa jadi kita selalu makan tahu dan tempe, tetapi kalau uangnya didapat dari mencuri, menipu, atau riba ? Bukankah sama saja ? Sangat disayangkan apabila itu terjadi. Kalau orang itu berdoa atau meminta sesuatu kepada Tuhan, doanya juga akan terpantul.
Belakangan, aktivitas serupa seperti apa yang saya amati sekitar akhir tahun 90-an itu, juga terjadi kampung saya. Sekelompok orang selalu mengadakan ritual di sebuah tempat ibadah pada malam – malam tertentu. Menurut informasi dari warga sekitar yang sempat diajak bergabung, mereka juga dengan bangganya selalu memamerkan perhiasan batu akik yang dipercaya mempunyai kemampuan khusus. Prosesi ritual pun tak jauh berbeda dengan yang lain. Sederetan bacaan harus dilalui sebelum membaca doa utama. Dan, doa yang terpantul itu kembali saya lihat…(*)

Last Updated on Monday, 18 February 2013 00:00